
Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (FPPTMA) kembali menyelenggarakan Silaturahmi Nasional (SILASMA) dan Seminar Nasional FPPTMA Tahun 2026 sebagai wadah penguatan jejaring, berbagi praktik baik, serta merumuskan arah pengembangan perpustakaan perguruan tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Bertempat di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) pada tanggal 3-4 Juni 2026, kegiatan yang diikuti oleh pengelola perpustakaan PTMA dari berbagai wilayah di Indonesia ini mengangkat tema “High Tech, High Touch: Menjaga Ruh Kemanusiaan di Perpustakaan Era Digital” dengan menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Dr. Ir. Wahyudi, S.T., M.T (Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah),Novy Diana Fauzie, MA. (Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Suwondo, S.Hum., M.Kom. (Ketua FPPTI Wilayah Jawa Tengah), dan Dr. Dhendra Marutho, S.Kom., M.Kom. (Dosen Program Studi Artificial Intelligence dan Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Semarang).
Perkembangan AI yang semakin masif dipandang sebagai momentum bagi perpustakaan untuk melakukan inovasi. Namun demikian, transformasi digital tersebut tidak dimaknai sebagai pengganti peran pustakawan, melainkan sebagai instrumen yang dapat memperkuat kualitas layanan dan efektivitas pengelolaan perpustakaan.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka dalam SILASMA 2026. Pustakawan didorong untuk terus meningkatkan kompetensi di bidang literasi digital, pengelolaan data, pendampingan riset, serta pemanfaatan AI secara etis dan bertanggung jawab. Kehadiran teknologi diharapkan mampu mengambil alih pekerjaan yang bersifat administratif dan repetitif sehingga pustakawan dapat lebih berfokus pada layanan yang membutuhkan analisis, kreativitas, kolaborasi, dan interaksi manusia.
Konsep Human Smart Library juga menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar ruang penyimpanan koleksi atau pusat akses informasi, tetapi menjadi pusat pembelajaran, inovasi, dan pengembangan pengetahuan yang tetap mengedepankan empati serta kebutuhan pengguna. Dalam konteks pendidikan tinggi, perpustakaan diharapkan mampu menjadi mitra strategis bagi sivitas akademika dalam mendukung proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga publikasi ilmiah.
SILASMA FPPTMA 2026 turut menjadi forum konsolidasi bagi perpustakaan PTMA untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarlembaga. Berbagai gagasan dan pengalaman yang dibagikan selama seminar menjadi bekal bagi setiap perpustakaan untuk menghadapi tantangan era digital sekaligus memperluas peluang pengembangan layanan berbasis teknologi.
Di tengah berbagai kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap berbagai profesi, SILASMA 2026 menghadirkan optimisme bahwa teknologi dan manusia dapat berjalan beriringan. AI diposisikan sebagai alat bantu yang mendukung kinerja pustakawan, sementara aspek-aspek seperti empati, kemampuan membangun relasi, penilaian kritis, serta pendampingan akademik tetap menjadi keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian yang menempatkan AI sebagai mitra kolaboratif bagi profesi di sektor pendidikan dan informasi.
Melalui penyelenggaraan SILASMA FPPTMA 2026, diharapkan terbangun komitmen bersama untuk terus menghadirkan perpustakaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai ruang yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat akademik. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, perpustakaan PTMA diharapkan mampu menjadi penggerak lahirnya ekosistem pendidikan tinggi yang unggul dan berkemajuan.


